Natal Kaum Majus: Iman yang Timbul dari Firman

Ruslan Christian

        Di dunia ini senantiasa ada dua macam manusia, kaum tidak beriman dan kaum beriman. Dalam peristiwa seputar Natal Pertama juga terdapat dua kelompok demikian. Contoh kelompok pertama adalah para pemimpin Yahudi masa itu - imam kepala dan ahli Taurat (ayat 4) - yang mengetahui secara rinci nubuatan tentang Mesias namun tidak menyambut Dia. Demikian pula Herodes Agung yang ingin tahu tentang kedatangan Sang Raja, namun pengetahuannya itu untuk membinasakan “bayi” yang adalah Sang Raja tersebut. Hingga kini kaum tidak beriman tetap ada di dunia ini.
Alkitab juga menceritakan kelompok kaum beriman pada Natal Pertama seperti Yusuf dan Maria, Zakharia dan Elisabet, Simeon dan Hana, serta kaum majus dari Timur. Catatan Injil Matius menunjukkan bahwa kaum majus ini adalah orang bukan Yahudi yang mencari dan menyembah Kristus sebagai Sang Raja. Bagaimanakah kelompok orang yang dianggap “kafir” ini dapat beriman dan mencari sang Mesias? Apakah iman mereka timbul dari kecendekiaan mereka?
Mereka dapat mengetahui tentang Sang Raja dan beriman kepadaNya bukan karena intelektualitas mereka dalam hal perbintangan, bukan pula karena pengetahuan keagamaan mereka, atau sesuatu dari diri
mereka, melainkan karena nubuatan-nubuatan tentang Mesias yang diyakini kaum Yahudi yang tinggal di sekitar mereka dan khususnya kitab Perjanjian Lama yang dibawa kaum Yahudi beberapa ratus tahun
sebelumnya yang mereka bawa di pembuangan Babilonia. Sebagai kaum cendekiawan dan ahli perbintangan yang mempelajari manuskrip kuno secara luas, mereka juga mempelajari naskah-naskah salinan PL ini. Iman mereka merupakan karunia Allah bagi mereka, yakni iman yang timbul dari mempelajari dan menyelidiki firman Allah (Rom. 10:17).
Pada masa kini kata “iman” disalahpahami dan diajarkan secara kuat kepada umat yang lugu dan polos. Iman yang katanya “dapat memindahkan gunung,” iman yang menghasilkan kesuksesan materi dan
pasti mendatangkan kesembuhan, iman yang pasti menghasilkan mukjijat, iman yang dapat mengubah kehendak Allah, atau secara ekstrem dapat dikatakan “iman” yang menggantikan Allah. Pemahaman yang meleset terhadap firman Allah pasti membuahkan kehidupan yang kacau. Sebab itu keyakinan akan “iman” demikian akan selalu berakhir dengan kesia-siaan dan kekonyolan.
Kita bersyukur Kristus rela datang ke dunia pada Natal Pertama dan Ia telah menyelesaikan tugasNya dengan mati di kayu salib demi kita orang berdosa. Bersyukur juga jika kita dapat beriman kepadaNya sebab itu merupakan karuniaNya. Bagian kita adalah merelakan iman tersebut untuk terus dipandu, disegarkan dan dikuatkan oleh Roh Kudus melalui pembelajaran dan perenungan firmanNya. Dengan demikian kita memiliki iman yang teguh untuk mengikut Tuhan sebagaimana para majus pada Natal pertama.

Renungan: Iman yang sejati bukanlah iman yang dihasilkan oleh kekuatan diri atau potensi manusia, melainkan iman yang dibangun di atas firman Allah.

Address

Jl. Kayun 22, Surabaya
Jawa Timur, Indonesia

Telp. 031.532 2693, 546 8684
Fax. 031.547 4175

E-mail: tu@gkatrinitas.org