Padang Gurun: Pembentukan Spiritualitas

Ruslan Christian

        Setelah melalui dekade-dekade yang sarat dengan hal akali, industri, teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan hal lainnya yang bersifat tampak secara lahiriah, maka sejak tahun 1960 an manusia cenderung mencari perkara yang bersifat spiritualitas. Hal itu sedang dan akan terus berlanjut di tengah-tengah problematika, stres dan kegersangan hidup zaman ini. Dunia semakin dipenuhi oleh teknologi hiburan (games, internet, smartphone, dan lain sebagainya) dan tempat hiburan (mall, plaza, tempat rekreasi, dan lain-lain), namun semakin banyak orang yang kesepian dan merasa teralienasi dari kemarakan dunia ini.
Di tengah konteks demikian tidak heran jika muncul beragam penawaran menuju spiritualitas yang lebih tinggi untuk meraih kebahagiaan. Ada dua jalan dominan yang ditawarkan kepada manusia di era purna modern ini. Pertama, jalan yang tampak spektakuler dan fenomenal. Janji-janji menuju spiritualitas yang “lebih tinggi” ditawarkan melalui pengalaman supra-alami, kesaksian ke alam lain bahkan ke neraka, wahyu-wahyu baru, benda-benda yang mendatangkan kuasa mistis, dan sejenisnya. Kedua, jalan yang menekankan alam batin yang terdalam dan mistis. Jalan ini ditawarkan melalui beragam seminar, pelatihan, buku-buku (juga buku elektronik), dan metode-metode lainnya. Jalan pertama hanya tampak menakjubkan namun tidak memberi kematangan karakter dan kerohanian. Jalan kedua hanya menemui kerusakan total manusia yang berpusat dalam hatinya sehingga “potensi diri” hanyalah ilusi belaka.
Nas ini menyatakan bahwa masa pembentukan mental dan kerohanian Yohanes Pembaptis sebagai “penyiap jalan” bagi Kristus terjadi di padang gurun. Ada ahli-ahli yang menghubungkan dia dengan masyarakat Qumran atau Essene, kelompok masyarakat yang hidup ekslusif dan jauh dari keramaian dunia. Namun Alkitab tidak memberi keterangan tentang hal ini. Istilah "di padang gurun" menunjuk wilayah yang terhampar dari perbukitan di sebelah barat Yudea hingga ke timur di pantai Laut Mati, dari utara ke lembah Sungai Yordan. Tidak ada wilayah yang lebih tandus, gersang, dan terpencil di Israel daripada wilayah ini. Allah membentuk Yohanes Pembaptis di tengah kesederhanaan, kegersangan dan kesunyian. Pada akhirnya Allah memanggilnya untuk menyerukan berita pertobatan sebagai persiapan menyambut kedatangan Mesias. Proses pembentukan mental dan spiritualitas tidak terjadi baik secara spektakuler-fenomenal melalui pengalaman yang menghebohkan maupun melalui dunia batin melalui praktek-praktek mistis, pengosongan diri, dan sejenisnya.
Seharusnya kita mengenyahkan dua jalan menuju "kerohanian sejati" yang ditawarkan di tengah zaman ini. Sebaliknya, ternyata Allah bekerja melalui proses yang tampak “rutin, sederhana dan sunyi” untuk mendewasakan seseorang. Allah membentuk kita dalam rutinitas dan kesenyapan dikala kita menghadapi beragam problematika hidup ini. Ditengah ketidakberdayaan, kesendirian dan kebergantungan kepadaNya, kehadiranNya semakin nyata dalam hidup kita. Memang sewaktu-waktu dalam kehendak dan kemurahanNya, Allah mengijinkan mukjijat terjadi dalam hidup ini, namun itu bukan jalan lazim yang dipakaiNya. Kita tidak dipanggil untuk menjauh dari tantangan dan rutinitas hidup ini, melainkan menghadapinya bersama Tuhan yang menyertai kita.

Renungan: Pembentukan spiritualitas sejati terjadi hanya melalui iman dalam Kristus dimana peran Allah yang primer dan peran kita adalah taat kepadaNya.

Address

Jl. Kayun 22, Surabaya
Jawa Timur, Indonesia

Telp. 031.532 2693, 546 8684
Fax. 031.547 4175

E-mail: tu@gkatrinitas.org