Artikel › Artikel Khusus  
Senin, 22 Desember 2014
Teladan Kesalehan Yusuf
Ev. Stefanus Kristianto
Teladan Kesalehan Yusuf
Mat. 1:18-25

Ev. Stefanus Kristianto


Suatu saat saya membaca sebuah anekdot demikian:

Dikisahkan ada tiga orang Kristen sedang sedang berebut hak atas sebuah roti. Mereka berdebat sengit sampai larut malam karena masing-masing ingin memakan roti tersebut. Akhirnya, salah seorang dari mereka menengahi dan berkata, “Sudah daripada kita terus berdebat. Lebih baik kita tidur dulu. Besok pagi masing-masing kita harus menceritakan mimpi kita, dan barangsiapa yang mimpinya paling indah, dia berhak mengambil roti tersebut.” Akhirnya, mereka sepakat dan kemudian pergi tidur.

Esok paginya, masing-masing mereka mulai menceritakan mimpinya. Orang pertama berkata bahwa semalam ia bermimpi bertemu dengan Musa, dan Musa mengingatkannya agar jangan terlalu menginginkan roti tersebut. Sebab, kelak ia akan mendapatkan Manna, roti surgawi yang jauh lebih nikmat rasanya daripada roti duniawi. Mendengar kisah orang pertama, kedua rekannya pun bertepuk tangan. Kemudian orang kedua mengisahkan bahwa dalam mimpinya semalam ia bertemu dengan Tuhan Yesus yang menyadarkan dia bahwa dia sudah memiliki Yesus, Sang Roti Hidup. Maka, tidak seharusnya dia terlalu menginginkan roti tersebut. Orang kedua lantas memungkasi ceritanya dengan berkata, “lagipula, bukankah manusia hidup bukan hanya dari roti saja?” Segera kedua rekannya yang lain bertepuk tangan karena dalamnya nilai mimpi si orang kedua. Ketika giliran si orang ketiga berkisah, dengan entengnya dia berkata, “Semalam saya mimpi bertemu seseorang yang mengaku Yudas Iskariot. Dia bilang pada saya bahwa kalian berdua sudah tidak menginginkan roti tersebut. Jadi dia bilang pada saya, “tunggu apa lagi, cepat makan rotinya”.

Bila kita ditanya yang manakah yang paling saleh di antara tiga orang tersebut, maka dengan cepat kita akan mengeliminasi orang ketiga. Kita mungkin masih bingung menentukan pilihan di antara orang pertama atau kedua, tapi setidaknya orang ketiga tidak akan kita kategorikan sebagai orang yang saleh. Mengapa demikian? Karena sadar atau tidak, kita telah memiliki standar-standar tertentu tentang seperti apa orang yang saleh atau rohani, dan seperti apa yang tidak.

Masalahnya, meskipun penilaian kita terkadang benar, tetapi kerapkali penilaian kita justru salah. Dalam kasus kisah di atas, tentu kita bisa dengan mudah menentukan mana yang paling tidak rohani di antara ketiga orang tersebut. Tapi dalam kenyataannya, apa alasan Anda berpikir bahwa si A adalah orang yang saleh sementara si B bukan? Mengapa Anda berpikir bahwa Anda jauh lebih rohani dibanding si C tetapi masih kalah rohani dibanding si D? Ya, tentu saja karena kita memiliki standar tertentu. Tetapi masalahnya, sekali lagi, standar kita kerapkali tidak tepat.

Kadang kita berpikir orang yang rajin beribadah ialah orang yang saleh. Sebagian dari kita mungkin berpikir bahwa seseorang yang lembut dan ramah adalah orang yang layak dikategorikan rohani. Ada juga yang mungkin berpikir bahwa seseorang yang punya pengetahuan Alkitab yang baik adalah orang yang rohani. Bahkan bukan tak mungkin ada yang mengaitkan kesalehan dengan askesoris-aksesoris yang seseorang kenakan. Penilaian-penilain itu tentu, sekali lagi, bisa benar, tetapi kadang juga bisa salah, karena tolok ukur kita hanya aspek luar manusia belaka.

Lalu seperti apakah standar kesalehan itu? Saat ini kita akan menjawabnya dengan melihat teladan dari seorang tokoh yang sangat minor, tetapi yang perannya sangat besar dalam kisah kelahiran Yesus, yakni Yusuf, suami Maria, wanita yang melahirkan Yesus.


Kisah di dalam nas yang kita renungkan ini, dimulai dengan catatan bahwa saat itu Yususf sedang bertunangan dengan Maria (ayat 18). Di dalam budaya zaman itu, pertunangan merupakan sebuah ikatan yang sudah setengah resmi. Itu sebabnya di ayat 19 Maria bisa juga disebut sebagai istri Yusuf. Perbedaannya hanyalah tempat tinggal dan hubungan seksual: seseorang yang bertunangan masih tinggal di rumah orang tua masing-masing dan keduanya juga tidak boleh melakukan hubungan suami istri. Biasanya, setelah setahun bertunangan baru si istri dijemput dalam pesta publik ke rumah si lelaki dan kemudian mereka secara resmi menjadi suami istri.

Masalah terjadi ketika di tengah hubungan yang sudah setengah resmi itu, tiba-tiba Maria kedapatan sedang hamil! Hal ini, tentu saja, merupakan aib besar bagi budaya zaman itu! Bagi budaya zaman ini yang makin merosot, tentu saja kisah ini agak susah dipahami. Tetapi budaya zaman itu merupakan budaya yang sangat mengedepankan kehormatan di atas segala-galanya, dan hal yang demikian ini – hamil di luar nikah tanpa tahu siapa bapak bilologisnya – sangat menciderai kehormatan! Meskipun jarang, tapi di dalam zaman itu si wanita bisa diajukan ke publik untuk dirajam batu!

Mungkin kita berpikir, “bukankah Maria mengandung dari Roh Kudus?” Ya, kita hari ini memang sudah mengetahui kebenaran itu, tapi masalahnya orang-orang zaman itu tidak mengetahui hal itu; atau, bahkan tidak mau menerima hal itu. Coba bayangkan bila seorang wanita muda yang belum menikah dan tengah hamil tiba-tiba berkata pada Anda bahwa dia sedang mengandung dari Roh Kudus. Bisakah Anda percaya padanya? Atau jangan-jangan Anda malah menganggapnya kurang waras? Nah, kurang lebih seperti itulah keadaan yang dialami Maria masa itu. Orang-orang zaman itu hanya mengetahi satu: Maria membawa aib besar bagi keluarganya dan Yusuf.

Dalam keadaan demikian, Yusuf mengambil pilihan yang luar biasa! Dia mencari jalan keluar yang baik bagi dia dan Maria (win-win solution). Yusuf sebenarnya bisa saja membalas dendam dengan menceraikan Maria di depan umum supaya dia malu, atau mengajukannya agar dirajam batu. Bila saya jadi Yusuf, bisa jadi saya akan memilih dua pilihan tersebut karena saya telah dikhianati! (bnd. Ams. 6:34). Dan dikhianati tentu saja bukan hal yang menyenangkan bagi siapapun! Ya, bila saya jadi Yusuf, mungkin saya akan memegang dada saya sambil berkata, “sakitnya tuh di sini!.”

Akan tetapi, Yusuf tidak bersikap buruk. Dengan rencana menceraikan Maria diam-diam, dia tidak ingin Maria dipermalukan. Malahan, dia sebenarnya memberi kesempatan Maria menikah dengan bapak dari si bayi. Dengan menceraikan diam-diam, Yusuf juga menjauhkan dirinya dari tuduhan yang tidak benar. Ungkapan tulus hati di ayat 19 sebenarnya lebih tepat dimaknai sebagai “benar di hadapan hukum.” Harus diakui bahwa di sini Yusuf bukan hanya memikirkan Maria, tapi dia juga memikirkan dirinya sendiri. Menikahi wanita yang “tidak setia” seperti Maria merupakan perbuatan yang melanggar Taurat dan mencemarkan reputasinya. Jadi, singkatnya, Yusuf ingin menjauhkan rasa malu dan aib ini bukan hanya dari Maria tapi juga dari dirinya; ia taat hukum tetapi ia juga memiliki belas kasihan kepada Maria. Luar biasa bukan?

Akan tetapi, Tuhan berkata lain. Ketika Yusuf mencoba menghindari aib itu, Tuhan justru menyuruh dia menanggung aib tersebut! Tuhan mengutus malaikat-Nya dan memberitahu Yusuf untuk tetap menikahi Maria sebab bayi yang dikandung Maria berasal dari Roh Kudus (ay. 20). Bahkan bayi itu merupakan penggenapan janji keselamatan yang Allah janjikan dan hanya melalui bayi itulah Allah menyediakan keselamatan (ay. 21-22). Dengan kata lain, Tuhan menyuruh Yusuf menanggung aib tersebut sebab melalui hal itulah rencana Allah yang lebih besar digenapi.

Hal yang luar biasa di sini ialah respon Yusuf, dia taat dan melakukan apa yang diperintahkan Tuhan. Tapi ketaatan ini bukan ketaatan biasa! Apa yang membuat ketaatan Yusuf luar biasa ialah ia tetap taat meskipun Tuhan membawanya dalam ketidaknyamanan dan ketidakpastian. Meskipun Yusuf melakukan perintah Tuhan, tetapi hal ini tetap tidak menghilangkan ketidaknyamanan karena tekanan sosial yang kuat dari masyarakat. Dia juga harus mengalami ketidakpastian ketika Tuhan menyuruhnya mengungsi ke Mesir sampai waktu yang tidak pasti. Dia juga kembali mengalami ketidaknyamanan ketika dia harus kembali ke tempat yang terpencil agar dia dan keluarganya selamat. Tapi justru di situlah letak kerohanian Yusuf: dia taat kepada Tuhan meskipun Tuhan harus membuatnya keluar dari kenyamanan dan kepastian! Dia taat meskipun Tuhan membawanya dalam aib, ketidaknyamanan dan ketidakpastian!


Dari kisah ini kita belajar satu hal yang penting soal kesalehan: hidup yang saleh bukan hanya bicara soal aspek eksternal, soal apa yang kita pakai atau lakukan sebab semuanya bisa menipu. Kehidupan yang rohani bicara soal ketaatan mutlak pada kehendak Tuhan. Dengan kata lain, kesalehan bicara soal sikap hati kita untuk tunduk secara penuh di hadapan Tuhan! Namun bukan hanya taat pada rencana yang baik, sebab kesalehan akan membawa kita tetap taat pada Tuhan meskipun Tuhan membawa kita pada situasi yang tidak nyaman dan tidak pasti.

Kalau kita taat hanya pada perintah yang menyenangkan – atau setidaknya tidak merusak kenyamanan kita – maka kita belum bisa dipandang sebagai seorang yang saleh. Tetapi berapa banyak dari kita yang justru bersikap demikian? Bila Tuhan memanggil kita menjadi misionaris ke Amerika Serikat atau Jerman, mungkin banyak di antara kita akan menyerahkan diri dengan rela. Tapi, bila Tuhan ingin kita menjadi misionaris di Guinnea Bissau (sebuah negara yang mungkin bahkan belum pernah kita dengar atau lihat di peta) maukah kita tetap berangkat? Taat terhadap perintah yang menyenangkan itu biasa. Namun, nilai ketaatan dan kesalehan kita justru akan diuji ketika Tuhan membawa kita ke dalam kesulitan, ketidakpastian dan ketidaknyamanan. Waktu itu terjadi masihkah kita mau taat?

Suatu saat saya menonton sebuah film Kristen berjudul “Courageous.” Dalam salah satu bagian film tersebut, dikisahkan tentang sebuah keluarga Meksiko yang miskin, yang harus segera mendapat perkerjaan agar bisa makan dan membayar sewa rumah. Singkat cerita, si ayah akhirnya mendapatkan pekerjaan yang baik sehingga kondisi keluarga ini pun membaik. Ujian terjadi ketika suatu hari si bos memanggil si ayah dan menawarkan kenaikan jabatan beserta kenaikan gaji, asalkan dia bersedia melakukan kecurangan dalam pengiriman barang. Bisakah Anda bayangkan pergumulan batin pria ini? Bayangkan bila Anda mulai sebagai keluarga yang miskin dan penuh kesusahan. Kini keadaan Anda dan keluarga sudah jauh lebih baik, tetapi tiba-tiba Anda dihadapkan pada pilihan yang sulit: jujur tetapi kembali miskin atau curang tetapi tetap hidup dalam kenyamanan. Nah, lebih kurang seperti itulah yang dialami tokoh ayah dalam film tersebut.

Pada akhirnya, pria ini memang memilih jujur, dan dari kejujuran itulah akhirnya dia mengalami kemajuan. Sebab, si bos sebenarnya sedang menguji integritasnya. Masalahnya, kisah ini hanya film! Dalam kehidupan nyata seringkali kita benar-benar dituntut untuk curang dalam usaha bila ingin tetap nyaman. Nah, maukah kita menaati perintah Tuhan untuk jujur meskipun konsekuensinya kita harus kehilangan banyak hal? Ketaatan dalam kesulitan, di situlah letak kesalehan kita. Mungkin ujiannya tidak harus sesulit itu. Coba mulai dari hal-hal kecil. Misalnya, coba Anda pikirkan orang yang telah menyakiti Anda. Maukah Anda berupaya berbaik dengan orang itu dan mendoakannya karena firman Tuhan memerintahkan demikian? Apapun yang Tuhan perintahkan dan kemanapun Tuhan menuntun kita, maukah kita melakukannya meskipun konsekuensinya semua kenyamanan kita harus hilang? Meski sulit, tapi justru di situlah letak kesalehan yang sejati. Kiranya Tuhan menolong kita.

 

Natal: Sebuah Kabar Buruk  Rabu, 28 Desember 2016
Nyanyian Kemenangan  Sabtu, 26 September 2015
Datang Menyembah Dia  Kamis, 27 Desember 2012
Pemikiran Calvin mengenai Kitab Suci  Jumat, 02 November 2012
Visi & Misi 
Ayat-Ayat 
    Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata;
    Mazmur 18:32
    Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;
    Mazmur 37:5
    Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;
    Amsal 3:7
    Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
    Yeremia 17:7
    Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!
    1 Korintus 16:13
    Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.
    Amsal 3:5-6
    "Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!"
    2 Tawarikh 15:7
    "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."
    Matius 19:26
    Persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
    Roma 12:1
    Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!
    Mazmur 31:24
    Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
    I Korintus 13:4
    Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.
    1 Korintus 3:7
    Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
    Roma 8:28
Galeri 

  
 
 
Home

Profil GKA Trinitas

Sejarah GKA Trinitas

Visi dan Misi

Jadwal Kegiatan

Artikel

Artikel Khusus

Renungan

Warta Gereja

Galeri GKA Trinitas

Hubungi Kami

Warna Sari

Jl. Kayun 22 Surabaya
Telp. 031.532 2693, 546 8684
Fax. 031.547 4175
E-mail: tu@gkatrinitas.org


Copyright 2011 GKA Trinitas Surabaya. All Rghts reserved