Artikel › Artikel Khusus  
Selasa, 21 Januari 2014
Allah adalah Kekuatan Kita (God is Our Strength)
Ruslan Christian
                        Allah adalah Kekuatan Kita (God is Our Strength):
                        Refleksi dari Mazmur 46 dalam menapaki Tahun 2014
           Materi kotbah  pada Kebaktian Tahun Baru,  01 Januari 2014 di GKA Trinitas Surabaya


Pdt. Ruslan Christian


             Waktu begitu cepat berlalu dan kita telah memasuki Tahun Baru 2014. “Tahun Baru” sebenarnya bukanlah tahun yang semakin baru, melainkan tahun yang semakin tua seiring semakin bertambahnya usia bumi ini dan usia kita. Dengan bertambahnya usia bumi ini maka semakin bertambah kompleks pula problematika hidup manusia di bumi yang semakin renta ini. Entah itu masalah ekonomi, teknologi, sosial, pertambahan penduduk, lingkungan hidup, dan lain sebagainya. Ironisnya, di tengah tantangan hidup yang semakin berat dan kompleks ini, diri dan kekuatan kita sangat terbatas. Kita juga tidak mengetahui tentang apa yang akan terjadi di tahun yang bernomor 2014 ini.
             Di tengah keterbatasan kita oleh ruang, waktu dan beragam problematika di bawah matahari, merupakan kesempatan yang indah untuk kita menengadah ke “atas”, berharap dan bersandar kepada Allah
Mahakuasa dan Mahakasih yang telah mewahyukan diriNya dalam Yesus Kristus, Tuhan kita. Keyakinan yang kokoh kepada Allah dan kebergantungan kepadaNya merupakan inti ajaran dari Mazmur 46 ini.
             Mazmur 46 merupakan salah satu mazmur yang digubah oleh Bani Korah, selain kumpulan Mazmur 42-49 (kecuali Mazmur 43) dan Mazmur 84-88 (kecuali Mazmur 86). Anak-anak Korah adalah keturunan dari Lewi
melalui Kehat.  Latar belakang penulisan mazmur ini kemungkinan besar dari pengalaman pembebasan ajaib oleh Allah atas Yerusalem yang akan diserang dan dihancurkan oleh pasukan Asyur yang kuat dan kejam pada tahun 701 sM pada zaman Hizkia memerintah Yehuda (2 Raja-raja 18-19).
             Mazmur ini yang mengilhami lahirnya nyanyian gubahan Martin Luther, “Allah Jadi Benteng Kukuh” (“A Mighty Fortress Is Our God”). Di saat-saat gelap dan tekanan yang sangat berat dalam masa Reformasi, Martin Luther mengajak sejawatnya, Philip Melanchton, menyanyikan pujian dari Mazmur 46 ini. Keyakinan kokoh akan Allah seyogyanya juga menjadi keyakinan kita memasuki “tahun baru ini” bahwa “Allah adalah Kekuatan Kita.”
             Hanya Allah Tempat Perlindungan Kita. Pada bagian pertama dari mazmur ini (ayat 1-4), pemazmur menyatakan keyakinannya yang kokoh bahwa Allah saja “tempat perlindungan dan kekuatan” (ayat 2) bagi
umatNya. Ada dua macam pertolongan Allah bagi kita umatNya : (1) suatu tempat perlindungan dimana kita dapat menyelamatkan diri, (2) sebagai sumber kekuatan batin di saat kita menghadapi bencana. Allah sebagai “tempat perlindungan” (refuge) menunjuk bahwa Allah sebagai tempat perlindungan terhadap bahaya dari luar sehingga kita dapat selamat. Ini memuat ide tentang keamanan, proteksi, dan perawatan bagi yang terluka. Ini soal memiliki keselamatan di tengah dunia penuh badai kehidupan. Istilah “kekuatan” menyatakan bahwa Allah sebagai sumber keberanian, kuasa, dan kekuatan bagi kita.
             Pengalaman pemazmur bergaul bersama dengan Allah sedemikian riil sehingga ia mencetuskan pengakuannya bahwa Allah “sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.” Allah berulangkali hadir dan menolong umatNya dalam kesukaran mereka.
             Implikasi dari pengalaman yang konkrit dan keyakinan yang kokoh akan Allah ini mendorong pemazmur menyatakan “sebab itu kita tidak akan takut” (ayat 3). Kehadiran Allah yang bersifat melindungi menjadi alasan bagi umatNya untuk tidak takut di tengah topan badai kehidupan yang menggelora.  
             Dengan ungkapan puitis pemazmur berkata “sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut,” mengingatkan bahwa beragam bahaya dalam pengalaman umatNya sunggguh konkret
bahwa Allah menjadi sumber pertolongan mereka. Misal, saat Allah menaklukkan Firaun dan membebaskan umatNya dari Mesir; di sini secara khusus menunjuk pergolakan politis dan perang saat penyerangan Asyur terhadap Israel (Yes. 10:5-14; 37:18-27). Umat Allah tidak perlu gentar dan menyerah sebab Allah adalah tempat perlindungan bagi mereka.
             Apa atau siapa yang menjadi tempat perlindungan dan kekuatan bagi Anda dan saya saat menghadapi beragam problematika dalam kehidupan ini? Ingatlah, kekuatan uang dan harta kita sangat terbatas.
Sekalipun kita sangat memerlukan uang dan harta, namun pertolongannya sangat terbatas di kala hati kita hancur, saat mengalami kegagalan, dan saat bencana menghantam kita. Uang dan harta juga tidak sanggup
menolong kita mengatasi dosa dan juga penghakiman di hadapanNya. Keterampilan, talenta dan kekuatan kita juga sangat terbatas untuk menyelamatkan kita di tengah dunia yang terus berubah ini. Begitu pula
dengan keluarga, sahabat dan koneksi sosial kita. Satu-satunya kekuatan yang pasti dan tetap dalam hidup ini adalah Tuhan. Selama masih ada kesempatan mari kita mengambil langkah memprioritaskan Dia dalam hidup ini.    
             Kehadiran Allah di Tengah UmatNya. Bagian kedua dari Mazmur Bani Korah ini adalah ayat 5-8 yang menyatakan bahwa kehadiran Allah di tengah umatNya membawa keamanan dan damai sejahtera.
Penyertaan Allah karena anugerahNya semata, bukan karena sesuatu kebaikan dari umatNya. Ini terbukti pada zaman Hizkia saat umat Israel dikepung oleh tentara Asyur yang dipimpin Sanherib, mereka dalam
kesesakan namun Allah menyelamatkan mereka. Bagian kedua ini juga menunjuk pada keamanan dan damai sejahtera bagi umatNya di sepanjang sejarah. Ungkapan “Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi” (ayat 5) menyatakan ketenangan dan damai sempurna umat Allah di sepanjang sejarah karena kehadiran Allah yang menyertai mereka.
             Pernyataan “disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai” mengingatkan aliran-aliran Siloam yakni sistem pengairan bagi Yerusalem di masa Perjanjian Lama (PL).  Pernyataan ini juga menunjuk tentang aliran-aliran sungai dari takhta Allah (Yeh. 47:1–12; Zak. 14:8; Why. 22:1–2) yang menyatakan keadaan damai, tenang, aman, bahagia, kelimpahan, dan sukacita. Umat Allah mengalami semua berkat ini di tengah-tengah
ancaman bahaya karena Allah hadir di tengah-tengah mereka.  
             Sementara dunia bergonjang-ganjing (ayat 2, 3, 6), umatNya tidak tergoyahkan sebab “Allah ada di tengah-tengah umatNya”  (ayat 6). Di masa PL kehadiran Allah nyata di Bait Suci sebagai tanda penyertaan bagi
umatNya, tetapi tempat kediaman Allah yang sesungguhnya adalah di surga, Bait Suci yang sejati dimana umatNya juga bersama denganNya. Abraham telah melihat kota kekal (sorga) ini dengan mata imannya (Ibr.
11:10).
             Kehadiran Allah di tengah umatNya juga memberi pertolongan bagi umatNya bahwa “Allah akan menolongnya menjelang pagi” (ayat 6). Ini mengacu pada pembebasan Israel dari Sanherib ketika di pagi hari ditemukan 185.000  mayat tentara Asyur yang tewas di sekitar perkemahan mereka (2 Raja-raja 19:35). Semua ini karena Malaikat TUHAN bertindak menghancurkan musuh umatNya. Damai sejahtera merupakan
dampak penyertaan dan tindakan Allah menghancurkan musuh.
             Kehadiran dan pertolongan Allah tersebut sedikitpun tidak didasarkan pada jasa dan kebaikan umatNya, melainkan karena anugerahNya semata. Hal ini diungkapkan pada ayat 8, “TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita adalah Allah Yakub.” Dia adalah Allah yang mengikat perjanjian dengan para leluhur umatNya: Abraham, Ishak, dan Yakub. Dengan demikian juga bagi keturunan mereka. Perjanjian dengan umatNya berdasarkan anugerah dan kemurahanNya saja.
             Jika Allah telah menyatakan anugerahNya yang sangat berlimpah dimana Ia menyertai kita (Imanuel), maka tidak ada alasan bagi kita untuk memegahkan diri karena kekuatan kita. Kiranya dijauhkan dari hati kita
kecongkakan dan egosentrisme. Sebaliknya kita senantiasa belajar untuk bersyukur dan memuji Dia. Anugerah dan kemurahanNya menjadi motivasi tertinggi untuk melayani Dia, bukan karena interes dan kepentingan pribadi kita.
             Allah Dipermuliakan Senantiasa. Pada bagian akhir mazmur ini (ayat 9-12), pemazmur menunjuk dimensi masa depan dari umatNya dimana penghakimanNya pasti memberikan kedamaian sempurna dan Dia saja
yang patut dipermuliakan. Pernyataan “pergilah, pandanglah…pemusnahan di bumi” (ayat 9) kemungkinan besar panggilan kepada semua penduduk Yerusalem untuk keluar dan melihat bagaimana kedahsyatan
tindakan Allah menyelamatkan mereka secara total dari musuh yang ganas. Kata “pemusnahan” menunjuk pada “kehancuran” atau “perobohan” musuh mereka (Yes. 37:36) dan pembebasan Israel.
             Perkataan dalam ayat 10, “yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi” menyatakan bahwa damai sejahtera diperoleh hanya melalui tindakan pembebasan dari Allah (bd. Hak. 3:11, 30; 5:31; 8:28).
Pernyataan ini secara utama menunjuk hal yang akan terjadi secara final saat semua musuh ditaklukkan di bawah kaki Tuhan Yesus saat Ia datang kembali. Terbitnya damai sejati hanya melalui penaklukkan oleh Allah.
             Akibat kemenangan yang pasti tersebut maka pemazmur berkata “diamlah dan ketahuilah” (ayat 11), dimana kata “diamlah” dari kata yang berarti melihat ke bawah, membiarkan jatuh, menggantung; kemudian
berarti menjadi rileks, khususnya kedua tangan, tidak berbuat suatu usaha, tidak mengerahkan tenaga, lalu memuat ide menyerahkan persoalan kepada Allah atau tidak kuatir. Bagian umatNya saat terancam bahaya
adalah berserah dan bagian Allah adalah bertindak melindungi umatNya.
              Setelah Allah bertindak membebaskan umatNya, maka Allah saja yang patut dipermuliakan, “Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa” (ayat 11). Allah juga ditakuti dan dihormati di antara bangsa-bangsa kafir yang tidak percaya.
              Mazmur 46 ini diakhiri dengan kembali mengingatkan bahwa Dia adalah Allah yang menyertai dan melindungi umatNya hanya karena anugerahNya, “TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita
ialah Allah Yakub.” Pengakuan iman ini berlaku bagi semua umat Allah di setiap tempat dan waktu dalam sejarah umat manusia.
              Pernah diberitakan bahwa di Moskow berdiri Galeri The New Tretyakov, museum yang memamerkan seni dan artifaks dari masa sebelum Uni Soviet. Pada tepi  sepanjang Sungai Moskow di dekat museum berserakan patung-patung dari para pemimpin yang dulunya paling berkuasa namun sekarang patung-patung tersebut hancur dan kehilangan bentuknya. Patung dari Stalin dan  Lenin, hidungnya terpukul dan kepalanya terpisah dari tubuhnya. Gambaran ini mengingatkan kita tentang mimpi Nebukadnezar dalam Daniel 2, dimana ia melihat patung besar dengan kepala dari emas, dada dan tangan dari perak, perut dan
pinggang dari tembaga, paha dari besi, kaki sebagian besi dan sebagian tanah liat. Namun semua itu dihancurkan oleh sebuah “batu besar,” yang menunjuk pada Allah dan kerajaanNya yang kekal dalam Kristus.
              Akhir sejarah umat manusia ada pada kedatangan Kristus kembali. Pada titik akhir sejarah umat manusia tersebut, segala kemuliaan dan hormat bukan bagi manusia dan umatNya, melainkan bagi Kristus dan Allah
Tritunggal saja. Sebab itu sejak sekarang, selama Dia masih memberi nafas hidup bagi kita, seharusnya kita belajar menundukkan diri kepadaNya dan mempermuliakan.
              Saat ini kita sedang dalam gerbong waktu yang sedang melaju dengan kencang dan tanpa henti. Tahun yang lama sudah berada di belakang kita dan tahun yang “baru” sedang kita masuki bersama. Suka-duka apa yang akan kita hadapi kita tidak mengetahuinya. Namun satu yang pasti: “Allah adalah Kekuatan Kita.”  Berbahagialah mereka yang bersandar pada Dia yang menjadi tempat perlindungan dan kekuatan yang
pasti. Selamat Tahun Baru 2014, kiranya Tuhan memberkati kita semua.

Referensi:
Boice, James Montgomery. Psalms. Pbk. ed. Grand Rapids, Mich.: Baker Books, 2005.
E.W. Hengstenberg. Commentary on the Psalms, Vol. 2.
Futato, Mark D. and George M. Schwab. Cornerstone Biblical Commentary, Vol 7: The Book of Psalms, The Book of Proverbs. Carol Stream, IL: Tyndale House Publishers, 2009.
 

Natal: Sebuah Kabar Buruk  Rabu, 28 Desember 2016
Nyanyian Kemenangan  Sabtu, 26 September 2015
Teladan Kesalehan Yusuf  Senin, 22 Desember 2014
Datang Menyembah Dia  Kamis, 27 Desember 2012
Pemikiran Calvin mengenai Kitab Suci  Jumat, 02 November 2012
Visi & Misi 
Ayat-Ayat 
    Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata;
    Mazmur 18:32
    Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;
    Mazmur 37:5
    Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;
    Amsal 3:7
    Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
    Yeremia 17:7
    Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!
    1 Korintus 16:13
    Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.
    Amsal 3:5-6
    "Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!"
    2 Tawarikh 15:7
    "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."
    Matius 19:26
    Persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
    Roma 12:1
    Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!
    Mazmur 31:24
    Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
    I Korintus 13:4
    Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.
    1 Korintus 3:7
    Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
    Roma 8:28
Galeri 

  
 
 
Home

Profil GKA Trinitas

Sejarah GKA Trinitas

Visi dan Misi

Jadwal Kegiatan

Artikel

Artikel Khusus

Renungan

Warta Gereja

Galeri GKA Trinitas

Hubungi Kami

Warna Sari

Jl. Kayun 22 Surabaya
Telp. 031.532 2693, 546 8684
Fax. 031.547 4175
E-mail: tu@gkatrinitas.org


Copyright 2011 GKA Trinitas Surabaya. All Rghts reserved