Artikel › Artikel Khusus  
Jumat, 02 November 2012
Pemikiran Calvin mengenai Kitab Suci
Ev. Otniol Seba, MACE
     Pemikiran Calvin mengenai Kitab Suci
   Ev. Otniol Seba, MACE


I.    Pendahuluan
       Kitab Suci memegang peranan yang sangat penting di dalam kehidupan John Calvin . Pemikiran yang berakar pada Kitab Suci telah menjadikan tulisan-tulisannya dan khotbah-khotbahnya telah menjadi catatan sejarah yang mempengaruhi gereja masa kini. Bagi Calvin sendiri mengenal Allah dan pemahaman mengenai Kitab Suci adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu segala hal yang berkaitan dengan Allah dan seluruh kehendak-Nya dipaparkan di dalam Kitab Suci yang tertulis.
      Calvin sangat menekankan Kitab Suci di dalam karyanya, Instituto of Christian Religion. Seluruh pemikiran yang berkaitan dengan Allah sampai kepada hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan praktis seorang Kristen di dasarkan kepada Firman Tuhan. Karya dan pemikiran Calvin terbawa di dalam arus reformasi dan mempengaruhi gereja-gereja masa kini. Oleh karena itu tidaklah berlebihan jikalau dikatakan bahwa gereja masa kini sangat berhutang banyak di dalam pemikiran Calvin. Pemahaman dan pengertian Firman Tuhan yang benar yang telah diwarisi di dalam tradisi Reformasi, khususnya melalui pemikiran Calvin, telah menjadi fondasi yang kokoh bagi gereja sampai hari ini.  
       Makalah ini mencoba menguraikan pemikiran Calvin tentang Kitab Suci di dalam bukunya, “Institutio of The Christian Religion Volume 1,” terjemahan dari John T. McNeill, terbitan Westminster John Knox Press – Louisville, 2006.

          Struktur Pemikiran Calvin mengenai Kitab Suci
     1.   Di dalam Institutionya, Calvin membahas mengenai doktrin kitab sucinya di dalam buku pertama, pasal 6-10, dengan pembagian sebagai berikut:
•    Pasal 6 dan pasal 10 merupakan catatan pembuka dan penutup dari pemikiran Calvin mengenai Kitab Suci
•    Pasal 7 – 9 merupakan inti pemikiran Calvin mengenai Kitab suci
     2.   Penjelasan Calvin mengenai Kitab Suci berkaitan dengan:
•    Inspirasi Alkitab
•    Ineransi Alkitab
•    Penafsiran Alkitab

II.    Pemikiran Calvin Dalam Intitutio I.6-10
A.    Pemahaman tentang Allah dan Kitab Suci
       Calvin memulai argumennya dengan menjelaskan bahwa Allah tidak hanya menyatakan keagungan-Nya melalui ciptaan, tetapi juga melalui Firman-Nya yang dapat menuntun kepada pemahaman tentang Dia di dalam konteks keselamatan. Alkitab adalah Firman Allah, yang mana Allah menyatakan seluruh kehendak-Nya bagi manusia. Allah tidak hanya menyatakan diri-Nya sebagai pencipta dunia ini, melainkan juga sebagai penebus di dalam hidup manusia. Melalui Alkitablah kita dapat mengenal Allah lebih dekat . Keyakinan Calvin bahwa Alkitab yang telah dipercayakan oleh Allah kepada para leluhur, para nabi dan rasul  melalui pewahyuan-Nya menjadi sarana bagi manusia untuk mengenal Allah untuk mendapatkan tujuan hidupnya. Namun apabila manusia menolaknya mereka hanya akan menemukan kerumitan-kerumitan di dalam kehidupannya, kecuali jika kembali berpedoman kepada Firman .
        Calvin menggunakan tiga metafora untuk menjelaskan maksudnya mengenai pentingnya pemahaman akan akan Allah di dalam hubungannya dengan Kitab Suci. Pertama, Calvin menggunakan Kitab Suci seperti kacamata yang berfungsi menuntun manusia untuk memahami penyataan Allah di dalam alam ciptaan-Nya ; Kedua, Calvin menggunakan metafora ”benang” yang dipakai sebagai penuntun di dalam labirin yang membingungkan ; Ketiga, Calvin menggunakan metafora Kitab Suci sebagaimana guru kita yang mengajarkan mengenai pengetahuan yang benar berkaitan dengan sorga

B.    Otoritas Kitab Suci
       Selanjutnya di dalam Institutionya, Calvin menyatakan bahwa Alkitab yang adalah Firman Allah memiliki otoritas yang tidak bergantung kepada manusia. Sebaliknya Alkitab memiliki otoritas penuh di antara orang-orang percaya hanya ketika mereka memandangnya firman yang  diturunkan dari sorga, sebagaimana telah diperdengarkan Allah. Calvin menuliskan: Kitab Suci memiliki otoritas penuh di antara orang percaya hanya ketika mereka memandang bahwa Kitab Suci berasal dari sorga, sebab itu adalah Firman Tuhan yang hidup yang harus didengar. Singkatnya dapat disimpulkan bahwa otoritas Kitab Suci berasal dari Tuhan dan bukan dari pengakuan manusia.
       Otoritas Kitab Suci juga bukan berasal dari gereja. Bagi Calvin, Kitab Suci itu memang diberikan Allah kepada gereja-Nya. Gereja memegang peranan penting meneruskan wibawa dan otoritas Kitab Suci yang adalah Firman Allah. Mengapa demikian? Calvin menjelaskan bahwa karena gereja didirikan di atas Firman Allah oleh para nabi dan rasul, sudah semestinya gereja menerima dan meneguhkan berita Firman Allah itu. Gereja harus menghormati berita kitab suci yang merupakan penjabaran tentang kebenaran Tuhan .
       Bagi Calvin dalam hal ini harus dapat dipahami bahwa gereja tidak berwenang menentukan Kitab Suci adalah Firman Allah, karena Kitab Suci adalah Firman Allah bagi dirinya sendiri. Dapat dikatakan bahwa gereja hanya sebagai pengantar yang mempersiapkan umat Tuhan untuk percaya akan berita Firman Allah itu sendiri.

C.    Kesaksian Roh Kudus tentang Kitab Suci
       Calvin menjelaskan hubungan antara kesaksian Roh Kudus yang meneguhkan wibawa dari Kitab Suci. Calvin menegaskan Roh kuduslah yang menghubungkan antara kita dengan Firman Allah. Roh Kudus memateraikan kesaksian-Nya mengenai kitab suci yang adalah Firman Allah di dalam hati seseorang. Bagaimanakah caranya sehingga kita yakin bahwa apa yang diberitakan itu adalah Firman Allah? Calvin meyakini bahwa para nabi memang berbicara tentang Firman Allah dan Roh Kudus yang memateraikan perkataan nabi yang adalah Firman Allah itu ke dalam hati seseorang, sehingga orang yang menerima pemberitaan ini, diyakinkan dalam hatinya oleh Roh Kudus bahwa itu adalah Firman Allah. Calvin menuliskan:  Tetapi saya menjawab: Kesaksian Roh Kudus lebih unggul dari semua pemikiran. Karena Allah sendiri yang memberikan kesaksian tentang Firman-Nya, demikian juga Firman Allah tidak akan diterima di dalam hari manusia sebelum itu dimateraikan dengan kesaksian internal dari Roh Kudus .
       Singkatnya, Calvin sangat menekankan hubungan yang erat sekali antara Firman Tuhan dan karya dari Roh Kudus. Keduanya berkaitan erat dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.

D.    Otentisitas Kitab Suci dan Penolakan Kitab Suci
       Oleh karena Kitab Suci berasal dari Allah dan kesaksian Roh Kudus membuktikan demikian, maka tidak ada keraguan untuk menyatakan bahwa Alkitab itu otentik. Keaslian Alkitab adalah Firman Allah sekali lagi bukan merupakan kesimpulan dari argumentasi rasional dan berasal dari manusia, melainkan karya Roh Kudus di dalam hati orang percaya melalui pelayanan manusia .
        Jadi pemikiran Calvin sangat jelas mengenai hal ini. Jikalau Kitab Suci itu berasal dari dari Allah, maka sudah tentu Kitab Suci itu memiliki otoritas dan otentisitas dari Allah. Orang percaya dapat meyakini Alkitab adalah Firman Allah yang memiliki otoritas dan otentisitas bukanlah berasal dari hasil pemikiran manusia yang spekulatif, melainkan berasal dari kesaksian internal Roh Kudus yang menyatakan itu di dalam hati setiap orang percaya.
        Calvin memberikan gambaran mengenai pelokan kitab suci adalah Firman Allah, yang muncul dari sekelompok orang yang menyangkal Firman Allah [sekte-sekte spiritualis] . Calvin menganggap bahwa mereka dikuasai oleh Iblis, sehingga bisa menyangkal wibawa kitab suci adalah Firman Allah. Calvin sangat meyakini kepastian dari Roh-Nya dengan kepastian dari Firman Allah, karena keduanya saling berkaitan satu dengan yang lainnya .
        Dengan kata lain, bahwa Roh tanpa Firman adalah suatu khayalan (tentang Allah sebagaimana yang dipikirkan dan direnungkan oleh sekte-sekte spiritualis) dan Firman tanpa Roh dapat dikatakan mati (tidak memberi dampak positif di dalam kehidupan orang percaya).
 
F.    Hubungan antara Ciptaan dan Kitab Suci
       Calvin menjelaskan hubungan antara pengetahuan tentang Allah yang dinyatakan melalui ciptaan dan pengetahuan tentang Allah yang dinyatakan di dalam Kitab Suci. Calvin memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai pemahaman ini demikian: Kami telah diajarkan tentang pengetahuan tentang Allah, meskipun hal itu secara jelas dinyatakan di dalam sistem dari alam semesta dan seluruh ciptaan, namun hal yang lebih dalam dan lebih gamblang dinyatakan di dalam Firman-Nya . Bagi Calvin, atribut-atribut dari Allah yang dilukiskan di dalam Kitab Suci sesuai dengan apa yang dilukiskan di dalam makhluk ciptaan-Nya. Calvin menyatakan: kita tidak mengabaikan kebenaran, kekuasaan, kekudusan dan kasih setia-Nya. Sebab bagaimana mungkin mempertahankan paham yang kita perlukan tentang kebenaran, kasih sayang dan keadilan-Nya, jika kita tidak bertumpu pada kebenaran-Nya yang tak tergoyahkan? .

III.    Penjelasan Calvin mengenai: Inspirasi Alkitab, Ineransi Alkitab
         dan Penafsiran Alkitab
   
    A.  Inspirasi Alkitab
         Calvin di dalam Intitutio dan komentarinya juga menjelaskan mengenai ’Inspirasi’ Alkitab. Calvin sangat yakin bahwa Alkitab yang adalah Firman Allah memang diinsiprasikan oleh Allah kepada para nabi dan rasul-Nya, sehingga mereka dapat menuliskan Firman yang mereka beritakan itu. Calvin menjelaskan: Kami mengingat apa yang telah dituliskan beberapa waktu yang lalu; kredibilitas dari ajaran tidak dibangun sampai kami dibujuk melampaui keraguan bahwa Allah adalah penulis kitab-Nya. Kemudian dengan bukti yang tertinggi dari Alkitab yang secara umum menyatakan fakta bahwa Allah melalui pribadi-pribadi berbicara tentang Firman-Nya. Para nabi dan para rasul tidak menjadi sombong, ketekunan mereka atau segala sesuatu yang mereka tuliskan sebagaimana apa yang mereka katakan, bahkan lebih dari itu mereka memberikan bukti-bukti secara rasional... .
        Selanjutnya Calvin menambahkan: Sebagaimana Allah sendiri yang memberikan kesaksian tentang Firman-Nya, demikian juga Firman itu tidak akan diterima di dalam mati manusia sebelum firman itu dimateraikan oleh kesaksian internal Roh Kudus. Kemudian, Roh yang sama telah berbicara melalui mulut dari para nabi harus harus menembus di dalam hati kami yang mempengaruhi pikiran kami bahwa apa yang mereka beritakan dengan setia adalah perintah ilahi... .
        Hal yang sama ditegaskan kembali di dalam penjelasannya yang sama dan konsisten mengenai ‘Inspirasi’ Alkitab ditemukan dalam II Timotius 3:16. Calvin menuliskan: Di dalam aturan yang dipegang tentang otoritas Kitab Suci, Dia menyatakan bahwa perkataan itu diinspirasikan Allah; karena jika demikian, hal itu melampaui seluruh kontroversi di mana manusia telah menerima itu dengan suatu penghormatan. Ini adalah prinsip yang membedakan antara agama kami dengan yang lainnya, bahwa kami mengetahui Allah telah berbicara kepada kami dengan sangat menyakinkan bahwa para nabi tidak berbicara atas pendapat mereka, tetapi dengan dorongan dai Roh Kudus, mereka hanya mengutarakan apa yang telah diperintahkan dari sorga untuk dinyatakan .
       Beberapa teolog modern penganut Calvinist  menilai serta menyimpulkan pemikiran Calvin mengenai ‘Inspirasi’ Alkitab ini dengan istilah “verbal planary inspiration .” Mereka meyakini bahwa Calvin berpegang pada pandangan ini.
 

    B.    Ineransi Alkitab
           Menjadi sebuah pertanyaan menarik sekaligus sebuah perdebatan pada zamannya, apakah Calvin mengakui ineransi Alkitab, sebagai otograf yang yang tidak mengandung kesalahan? Sangat jelas di dalam institutionya, Calvin menegaskan keyakinannya terhadap inneransi dari Kitab Suci . Di dalam pengantarnya mengenai Calvin – Institutes of Christian Religion, McNeill menegaskan bahwa Calvin mengakui hal ini: Otoritas Alkitab sebagai Firman Allah dan sumber kebenaran yang tidak dapat disangkal tidak pernah dipertanyakan oleh Calvin, dan dia [Calvin] berpendapat bahwa pembacanya akan mensharingkan jaminan ini. Meskipun dia [Calvin] tidak memberikan penjelasan tambahan apa yang kemudian menjadi kontroversi yang telah dibicarakan sebagai “ineransi verbal”. Penekanan Calvin yang umum melalui pesan atau isi dari Firman Tuhan lebih dari kata-katanya .
          Penjelasan Calvin mengenai ineransi Alkitab memang tidak dibahas secara mendetil di dalam karyanya, Institutio. Calvin hanya menjelaskan bagian ini secara ringkas: Kemudian, dia yang berfungsi memberitakan, menghasilkan apa yang dikatakan kepadanya dari Firman Allah yang tidak dapat salah... . Mengenai hal ini Roger Nicole berpendapat: Dalam penggunaan kata “perkataan yang dicatat” kami seringkali menemukan di dalam Karya Calvin, rupanya dia [Calvin] tidak bermaksud memberikan metode yang spesial bahwa Allah telah mengkomunikasikan isi Kitab Suci kepada pikiran manusia yang yang telah menuliskan itu. Fokusnya di sini lebih kepada hasil – yaitu di dalam kenyataannya teks itu merupakan hasil dari penulis yang dikhususkan yang merupakan karya Allah yang otentik sebagaimana hal itu telah dikatakan untuk dituliskan kata demi kata oleh Dia [Allah].... .    
          Lain halnya dengan Murray, di dalam bukunya mengenai Calvin on Scripture and Divine Sovereignty, ia tidak menjelaskan pandangannya tentang ineransi di dalam pembahasan mengenai doktrin Calvin ini. Di dalam bukunya, Murray lebih memilih untuk membahas konsep-konsep yang jelas dari Calvin, seperti Otoritas Kitab Suci, dan Inspirasi Kitab Suci .  
    
    C. Penafsiran Alkitab
        Para teolog modern menganggap bahwa Calvin telah mewarisi sesuatu yang sangat berharga bagi gereja dan orang-orang percaya masa kini. Bukunya “Instituo” tidak hanya dipakai sebagai acuan untuk gereja dan politik, namun lebih dari itu, Institutio dianggap memberikan pengajaran yang dalam mengenai Kitab Suci. Cara berpikir dan penyusunan pokok-pokok pikiran yang disusun di dalam karya ini sangat sarat dengan pemikiran-pemikiran teologi yang didasarkan pada pemahaman Firman yang dalam. Elsie Anne McKee menjelaskan mengenai hal ini demikian: John Calvin mengarahkan seluruh orang-orang untuk setia kepada Kitab suci. Karyanya, Institutes of Christian Religion telah ditulis sebagai suatu kunci untuk memahami Alkitab; karya ini telah menjadi dasar untuk penerbitan komentar-komentar dari para penulis reformasi lainnya yang telah dipublikasikan melalui pelajaran-pelajaran selama bertahun-tahun. Karena itu terdapat hubungan yang dekat sekali di antara karya-karya ini, dan fakta seluruhnya yang Calvin ingin katakan adalah dia [Calvin] percaya apa yang Alkitab ajarkan, hal ini menjadi daya tarik untuk menyelidiki bagaimana eksegesisnya membentuk theologianya dan bagaimana theologianya menjadi dasar untuk eksegesisnya .
        Calvin juga merupakan seorang penafsir Alkitab yang baik. Di dalam zamannya, ia merupakan salah seorang teolog gereja yang kritis di dalam membaca dan Kitab Suci. Kemampuannya menguasai berbagai bahasa menjadi jaminan bagi Calvin dapat memahami Firman Allah dengan baik. Para teolog modern menganggap Calvin pada zaman itu melebihi Erasmus di dalam pemahaman dan penggunaan teks Kitab Suci, karena kecakapannya menggunakan berbagai bahasa sebagai sarana untuk membedah dan menjelaskan Kitab Suci tersebut .
        Di dalam menafsirkan dan menjelaskan Kitab Suci, Calvin berusaha untuk memaparkan kitab suci dengan jelas . Calvin selalu menempatkan teks pada konteksnya untuk mendapatkan arti yang lebih mendalam . Bagi Calvin Kitab Suci adalah Firman Allah dan oleh sebab itu, Firman Allah itu harus dapat dimengerti dengan tepat sesuai dengan konteksnya.  Calvin menggunakan metode penafsiran ”Garamatikal-Historikal Konteks” untuk menjelaskan pemahamannya mengenai bagian Kitab suci yang ditafsirnya. Pucket memberikan komentar mengenai hal ini: Pendekatan ini menuntut keseriusan secara historis dan konteks literaturnya dari teks yang diteliti . Calvin memang menolak cara penafsiran yang dipakai oleh Gereja Katolik Roma pada waktu itu yang menafsirkan Kitab Suci dengan cara alegoris .
        Penggunaan metode tafsir “Gramatikal-Historical Konteks” sangat  menekankan makna/arti teks dengan memperhatikan konteksnya. Calvin menegaskan: Sekarang artinya semakin jelas, jika kita melihat catatan siapa yang dimaksud dari kata-kata ini ditujukan, sesuatu yang kami harus selalu perhatikan di dalam seluruh pengajaran tentang Kristus . Calvin menerapkan ini ketika membahas Matius 19:21. Cara penafsiran Calvin seperti ini telah mempengaruhi penafsiran gereja terhadap Kitab Suci sampai hari kini. Vos menuliskan hal ini dengan tepat: Di dalam prinsip penafsiran yang salah, Calvin mengusulkan suatu pendekatan historical-gramatical terhadap Kitab Suci yang mana penafsir modern hari ini telah mewarisi pendekatan eksegese ini .
        Kesetiaan Calvin dengan metode penafsiran Alkitab menghasilkan suatu ekposisi Kitab suci yang sangat mendalam. Tidak berlebihan jikalau kita dapat menyimpulkan bahwa semua ini telah mempengaruhi gereja dari berbagai denominasi di dalam sepanjang 200 tahun kemudian setelah masa hidupnya. Cairns memberikan laporan mengesankan di dalam bukunya mengenai pengaruh Calvin ini: Eksposisi Calvin yang setia terhadap hampir seluruh Alkitab melalui komentar-komentarinya merupakan kontribusi yang terbesar terhadap gereja dari berbagai denominasi yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun

IV.    Kesimpulan
        Pemaparan Calvin mengenai Kitab Suci di dalam Institutio dan tulisan-tulisan lainnya merupakan warisan yang sangat penting dan bernilai di dalam gereja sampai hari ini. Sumbangsih yang sangat besar dari Calvin di dalam pemikiran dan penafsiran mengenai Kitab Suci, selain Luther, telah memberikan warna sendiri di dalam tradisi reformasi, khususnya bagi para pengikut Calvin, yaitu gereja-gereja Reformed pada masa kini. Sudah sewajarnya gereja-gereja yang terhisap di dalam arus tradisi Reformasi Calvinist mengikuti jejak Calvin yang menekankan pada pencarian akan Allah dan pemahaman akan kehendak-Nya . Pencarian dan pemahaman akan kehendak Allah hanya dapat ditemukan di dalam pemahaman Kitab Suci dengan kesaksian internal dari Roh Kudus di dalam komunitas hidup umat pilihan Allah.

Sumber-Sumber Utama:

     Bouwsma,  William J., John Calvin: A Sixteenth Century Potrait. (Oxford: Oxford University Press). 1988.
     Cairns, Earle E. Christianity Through The Centuries: A History of the Christian Church. 3rd Edition. (Michigan: Zondervan Publishing House), 1996.
     Calvin, John, Calvin’s Commentaries Vol.XXI: Galatians – Filemon. Rev. William Pringle, (Trans.). (Michigan: Baker Books), 2005
     Dowey, Edward A., The Knowledge of God in Calvin’s Theology. (New York: Columbia University Press), 1952
     George, Timothy., (edit), A Prism of Reformed. (Kentucky: Westminster/John Knox Press),  1990
     Hall, David W. dan Lillback, Peter A., (Edits), Penuntun Ke Dalam Theologi Institutes Calvin, (Surabaya: Penerbit Momentum), 2009.
     Hirzel, Martin Ernst and Sallmann, Martin, (edits), John Calvin’s Impact on Church and Society. (Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing House), 2009
     Kaiser, Walter and Silva, Moises, (edit.), An Introduction to Biblical Hermeneutic: The Search For Meaning. (Michigan: Zondervan Publishing House), 1994
     McNeill, John T., (Edits), Calvin – Intitutes of The Christian Religion, Volume I & II. (Louisville: Westminster John Knox Press), 2006
     Murray, John, Calvin On Scripture and Divine Sovereignty. (England: Evangelical Press), 1979
     Olin, John C. (edit), A Reformation Debate – Saledeto’s Letter to The Genevans and Calvin Reply. (New York: Harper Torchbooks – The Academy Library), 1966
     Puckett, David L. John Calvin’s Exegesis of the Old Testament. (Louisville: Westminster John Knox Press), 1995
     Van Til, Cornelius, An Introduction to Systematic Theology. Second Edition. (New Jersey: P & R Publishing), 2007
     Vos, Howard F., Exploring Church History. (Nashville: Thomas Nelson Publishers), 1994
     Walvoord, John W. (Edit.), Inspiration and Interpretation. (Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company), 1957

Artikel-Artikel
     Roger Nicole, John Calvin and Inerransi. Journal of The Evangelical Theological Society, 25 / 4 (1982)
     James Edward McGoldrick, Introduction John Calvin – The Reformer’s Preparation. Reformation & Revival: A Quarterly Journal for Church Leadership. Volume 10. Number 4. Fa1l. 2001.
 

Natal: Sebuah Kabar Buruk  Rabu, 28 Desember 2016
Nyanyian Kemenangan  Sabtu, 26 September 2015
Teladan Kesalehan Yusuf  Senin, 22 Desember 2014
Datang Menyembah Dia  Kamis, 27 Desember 2012
Visi & Misi 
Ayat-Ayat 
    Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata;
    Mazmur 18:32
    Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;
    Mazmur 37:5
    Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;
    Amsal 3:7
    Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
    Yeremia 17:7
    Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!
    1 Korintus 16:13
    Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.
    Amsal 3:5-6
    "Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!"
    2 Tawarikh 15:7
    "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."
    Matius 19:26
    Persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
    Roma 12:1
    Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!
    Mazmur 31:24
    Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
    I Korintus 13:4
    Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.
    1 Korintus 3:7
    Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
    Roma 8:28
Galeri 

  
 
 
Home

Profil GKA Trinitas

Sejarah GKA Trinitas

Visi dan Misi

Jadwal Kegiatan

Artikel

Artikel Khusus

Renungan

Warta Gereja

Galeri GKA Trinitas

Hubungi Kami

Warna Sari

Jl. Kayun 22 Surabaya
Telp. 031.532 2693, 546 8684
Fax. 031.547 4175
E-mail: tu@gkatrinitas.org


Copyright 2011 GKA Trinitas Surabaya. All Rghts reserved