Artikel › Artikel Khusus  
Selasa, 18 September 2012
Open Teisme dan Implikasi Terhadap Kehidupan Kristen
Ev. Otniol Seba, MACE



I. Pendahuluan



    Open Teisme adalah sebuah gerakan teologi yang berakar kuat dan dibangun di dalam teologi Injili yang berasal dari sistem teologi Arminianisme  dengan penekanan yang besar kepada kebebasan manusia.  

   • Open Teisme merupakan suatu kritik terhadap sistem teologi Calvinistik atau Reformed yang memberikan penekanan yang besar kepada Kedaulatan dan Providensi Allah.


II. Latar Belakang Pemikiran Open Theism

    Istilah “Open Teisme” pertama kali munculkan dan digunakan oleh seorang teolog, Richard Rice, dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1980 dengan judul: The Openness of God: The Relationship of Divine Foreknowledge and Human Free Will.

    Pada tahun 1994 diterbitkan suatu tulisan dengan judul: The Openess of God, di mana banyak di antara sarjana Injili berkontribusi di dalam tulisan-tulisan itu, di antaranya: William Hasker, Clark Pinnock, David Basinger, John E. Sanders, Richard Rice, Gregory Boyd, dan lain-lain.

    Setidaknya ada 3 fase perkembangan pemikiran “Open Teisme”
        a.    Pemikiran Open Teisme sebenarnya telah ada sekitar abad ke 4 dan 5 masehi di mana pemikiran ini nampak di dalam kelompok Audians, dengan pemimpinnya Audius seorang rahib dari Syria. Kelompok ini menekankan tentang Antropomorfism. Bagi kelompok ini Allah adalah dipandang mirip dengan manusia bisa melakukan aktifitasnya.Kelompok ini menempatkan Allah di dalam hal-hal natural dan menolak sifat-sifat Allah yang berkaitan dengan a-natural.
        b.    Selanjutnya, pada abad ke 14 Masehi, pemikiran ini (Open Teisme) mempengaruhi Faustus Socinus (1539-1604) seorang filsuf dan teolog Italia pada masa itu. Socinus menolak pandangan teolog-teolog pada masa itu yang menekankan tentang sifat-sifat Allah yang adikodrati (misalnya: Ketidakberubahan Allah, kesempurnaan pra-pengetahuan Allah, Kesempurnaan sifat-sifat-Nya). Pemikirannya tersebar dan diterima sampai pada abad 17 dan 18 Masehi.
        c.    Puncak dari Open Teisme, terjadi di dalam masa G. W. F. Hegel (1770-1831). Hegel adalah filsuf idealisme Jerman yang sangat menekankan pikiran (geist) di dalam seluruh karyanya. Bagi Hegel, aktifitas agama itu sama dengan aktifitas manusia lainnya. Baginya, Allah itu tidak lebih dari manusia di dalam aktifitasnya, oleh karena itu Hegel menolak pandangan ketidakberubahan Allah. Bagi Hegel Allah dapat berubah, dan pengetahuan-Nya itu tidak sempurna.
 
   • Periode yang sangat menetukan dari pembentukan konsep “Open Teisme” terjadi pada tahun 1831-1980, di mana hanya sebagian kecil dari teolog dan filsuf mengembangkan dan mempertahankan pemikiran “Open Teisme” ini. Di dalam masa ini ada beberapa karya yang dihasilkan berkaitan dengan pemikiran ini, di antaranya: L. D. McCabe., menghasilkan 2 karyanya: His Divine Nescience of Future Contingencies a Necessity. (New York: Phillips & Hunt, 1882); dan The Foreknowledge of God (Cincinnati:Cranston & Stowe, 1887); Gordon Olson - The Foreknowledge of God (Arlington Heights: Bible Research Corporation, 1941); J. R. Lucas dengan bukunya, The Freedom of the Will (Oxford: Oxford University Press, 1970); Richard Swinburne, dengan karyanya: The Coherence of Theism (Oxford: Oxford University Press, 1977).

    Pada tahun 1980, Richard Rice, menjadi pionir untuk pandangan Open Teisme yang sangat mempengaruhi teolog dan filsuf di era kemudian, dengan bukunya The Openness of God: The Relationship of Divine Foreknowledge and Human Free Will (Nashville: Review & Herald, 1980).



III. Konsep dan Pemahaman Open Teisme (Lihat juga Perbandingannya dengan teologi reformasi)

A. Sifat-Sifat Allah 

1. Tentang Ketidakberubahan Allah:

    Clark Pinnock menuliskan: “Dalam kasus tentang Allah, kita dapat mengatakan bahwa Allah tidak dapat berubah, tetapi di dalam pengalamannya Allah berubah; Sifat Allah tidak berubah, tetapi aktifitas-Nya dan hubungan-Nya selalu dinamis [berubah]” (Pinnock., Most, Moved, Mover, pp. 81).
  
    Rice menuliskan: Alkitab mengatakan kepada kami, bahwa Allah merumuskan rencana-rencana dan tujuan-tujuan-Nya, bahwa Dia seringkali mengubah pikiran-Nya ... Allah menyesal ... (Rice., Biblical Support for A New Perspektif, in the Pinnock., Openess of God, pp. 26)

    • Contoh: Keluaran 32:14; Bilangan 14:11, dst.

   • Kesimpulan: Allah bisa berubah, Allah bisa juga menyesal atas rencana yang telah dibuat-Nya.


2. Tentang Ketidakterbatasan Allah

    Sanders menuliskan: “Donald Bloesch menyatakan dengan tepat bahwa Allah tidak mutlak dalam ketidakterbatasan-Nya (sebagaimana dipahami oleh teolog-teolog lama), karena jika demikian, maka ini akan membuang kemungkinan untuk bersekutu dengan Allah di dalam struktur yang terbatas” (Sanders., The God Who Risk, pp. 29)

   • Kesimpulan: Pada prinsipnya Allah itu terbatas.


3. Tentang Kekekalan Allah

    Pinnock menuliskan: “Allah merupakan agen sementara. Dia berada di atas waktu di dalam arti bahwa Dia ada di atas pengalaman dan diukur dengan waktu, tetapi Dia tidak melampaui waktu (sebelum atau sesudahnya) atau sebelum peristiwa itu terjadi secara berurutan. Alkitab menyatakan bahwa Allah secara sementara bersifat kekal [kekal di dalam waktu], bukan memiliki kekekalan yang melampaui waktu. Lebih tepat, Allah itu terbatas jika dihubungkan dengan ciptaan, dan diri-Nya dengan segala tindakan-Nya di dalam ruang yang sementara.”  (Pinnock., Most, Moved, Mover, pp. 96-97)

   • Kesimpulan: Allah itu tidak kekal – dibatasi di dalam ruang yang sementara


B. Providensi Allah

    Pinnock menyatakan: “...Allah berkarya di dalam cara-Nya untuk menopang struktur segala ciptaan-Nya, dan oleh karena Allah telah memberikan kebebasan kepada ciptaan-Nya, maka dengan sukacita [Dia] menerima masa depan yang terbuka serta tidak tertutup dalam hubungan-Nya dengan dunia bersifat dinamis dan bukan statis....Kami melihat alam semesta sebagai konteks pilihan yang sesungguhnya, penuh dengan pilihan dan kejutan. Keterbukaan Allah berarti bahwa Allah terbuka untuk mengubah realitas sejarah, Allah peduli dengan kami dan membiarkan kami melakukan sesuatu yang memberikan dampak bagi Dia. (Pinnock., The Openness of God, pp. 103-104).

   • Contoh: Yesaya 5:3-7,  Allah gagal membangun sejarah Israel – Kejatuhan Israel ke dalam dosa merupakan suatu realitas yang bersifat dinamis.

  • Kesimpulan: Allah tidak berkuasa penuh atas dunia ciptaan-Nya. Allah juga bergantung pada manusia untuk realitas dunia ciptaan-Nya


C. Pra-Pengetahuan Allah

    Sanders menyatakan: Allah perlu tahu, apabila Abraham adalah orang yang tepat di mana Allah dapat membuat kolaborasi terhadap penggenapan proyek ilahi. Apakah ia [Abraham] akan setia? atau Allah harus menemukan orang lain untuk mencapai tujuan-Nya (Sanders, The God Who Risk, pp. 52-53)
 
    Pinnock menyatakan: Allah mengekspresikan kefrustasian: “... Sekalipun Aku tidak pernah memerintahkannya kepada mereka dan sekalipun hal itu tidak pernah timbul dalam hati-Ku, yakni hal melakukan kejijikan ini...” – Allah tidak mengantisipasi hal ini. Di dalam kitab Yunus, pertobatan bukan hal yang diketahui Allah yang akan terjadi selanjutnya, Dia merencanakan untuk menghancurkan mereka [bangsa Ninewe] tetapi merubah pikiran-Nya ketika mereka bertobat....Allah belajar hal-hal ini dan [saya menambahkan] menikmati untuk mempelajari hal-hal itu...Allah senang dengan hal-hal yang spontan di dalam dunia ini dan menikmatinya untuk mengetahui lebih lanjut ... (Pinnock, The Openness of God, pp. 122-124)

  • Dasar Kitab Suci: Keluaran 4:8-9; Hosea 8:4; Yeremia 38:17-18, Yunus 3:10, dst.

  • Kesimpulan: Pengetahuan Allah tidak sempurna terbatas pada masa kini. Pengetahuan Allah tidak dapat menjangkau masa depan.


D. Kehendak Bebas

    Allah telah memberikan kepada manusia kebebasan dan di dalam kebebasan itu manusia benar-benar bebas. Allah tidak tahu kapan waktunya pilihan dari seseorang itu akan dilakukan. Jikalau Allah mengetahui pilihan yang akan datang dari seseorang, maka orang tersebut tidak sungguh-sungguh bebas di dalam memilih sesuatu. Jikalau Allah mengetahui kehendak bebas seseorang dalam memilih di masa yang akan datang, maka itu artinya kehendak bebas  itu tidak sungguh-sungguh ada (dikutip dari Matt Slick, Open Theism and Libertarian Free Will)

   • Kesimpulan: Manusia memiliki kebebasan yang sama derajatnya dengan Allah, sehingga Allah tidak perlu mengintervensi kebebasan manusia.


E. Hermeneutika (Penafsiran Alkitab)

    Boyd menyatakan: Jika Pemikiran kita tentang kasih kontradiksi dengan pembacaan Alkitab kita, maka terdapat kontradiksi antara penafsiran Alkitab dengan pengalaman hidup kita. Ketika aspek-aspek tradisi teologi gereja masuk di dalam konflik ini, baik berkaitan dengan Alkitab, pemikiran dan pengalaman, maka kita perlu bertanya kembali apakah tradisi gereja sudah tepat [untuk menyelesaikan konflik ini]? atau kita menggunakan kriteria [penafsiran yang lain] yang lain untuk menyelesaikan konflik tersebut (Boyd., Satan and the Problem of Evil, pp. 22).  
 
    Pinnock menyatakan: Munculnya pandangan yang lebih dinamis tentang realita orang-orang membaca kitab suci dengan lebih baik dan bahkan melakukannya di dalam cara berfikir filosofis (Pinnock., Most, Moved, Mover, p. 121) 
   
  • Kesimpulan: Menolak metodologi penafsiran yang baku (metode gramatical-historical eksegesis umumnya dipakai oleh teolog Reformed) di dalam tradisi gereja. Pemikiran seperti ini sangat dipengaruhi oleh filosofi postmodern – Relativisme, Skeptisisme dan anti Tradisionalisme


F. Konsep Keselamatan

   Boyd menuliskan: “Apakah Iman bekerja? Alkitab kelihatannya mengkonfirmasi akan penyataan ini. Seluruh Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru kami temukan bahwa Tuhan meminta umat-Nya  membuat pilihan atas untuk menerima pemberian keselamatan. Pada akhirnya umat-Nya sebagai pribadi yang memiliki moral bertanggung jawab memilih untuk menerima atau menolak pemberian keselamatan dari Allah”  (Boyd., Satan and the Problem of Evil, pp. 81).

   • Kesimpulan: Keselamatan adalah pilihan manusia untuk menerima atau menolak itu

G. Konsep tentang Doa

    Sanders menuliskan pendapatnya demikian: Situasi yang menuntut hasil dari doa merupakan suatu yang berbeda di dalam model ini (in the risk model), perlu ditambahkan Allah telah masuk di dalam hubungan yang sesungguhnya dengan kami. Sesuai dengan model persekutuan ini Allah sungguh-sungguh meresponi kami ... doa kami harusnya membuat perbedaan kepada Allah yang menyebabkan hubungan Allah bersifat pribadi dengan kami. Allah telah memilih untuk diri-Nya sendiri bergantung kepada kami untuk hal-hal yang jelas [yang kami doakan] .... (Sanders., The God Who Risk, pp. 271).
 
  • Kesimpulan: Jawaban doa bukan bergantung kedaulatan Allah, tetapi bergantung kepada permohonan dan permintaan orang Kristen yang dapat mempengaruhi keputusan Allah.



IV.  Implikasi Konsep Open Teisme terhadap Kehidupan Kristen


A.      Menghilangkan keyakinan iman yang sejati terhadap Allah Yang Benar – Allah Tidak Dapat Diandalkan

    Kesimpulan dari Pandangan Open Teisme, bahwa Allah bisa berubah, Allah bisa juga menyesal atas rencana yang telah dibuat-Nya, Allah juga terbatas dan yang tidak kekal – menunjukkan bahwa Allah seperti ini tidak dapat diandalkan di dalam hidup orang Kristen. Allah seperti ini tidak dapat memimpin kehidupan orang Kristen di dalam dunia ini.

    Konsekuensi logis dari pandangan ini adalah: (1) Iman Kristen menjadi sia-sia – tidak memberikan dampak di dalam kehidupan seorang Kristen; (2) merupakan tindakan yang bodoh untuk percaya kepada Allah yang bisa berubah, bisa gagal, bisa menyesal, terbatas-tidak berkuasa penuh atas hidup manusia.
 
    Coba pikirkan: Apakah ini menjadi suatu pilihan yang tepat? Apakah anda mau percaya dan beriman kepada Allah yang tidak dapat diandalkan di dalam hidup anda? Kekecewaan demi kekecewaan akan dirasakan dan dialami oleh orang yang percaya kepada Allah sebagaimana yang diutarakan oleh para teolog Open Teisme.


B.      Menghilangkan Pemuliaan terhadap Allah di dalam Ibadah yang benar

    Kesimpulan dari Pandangan Open Teisme, bahwa Allah bisa berubah, Allah bisa juga menyesal atas rencana yang telah dibuat-Nya, Allah juga terbatas dan yang tidak kekal – menunjukkan bahwa Allah seperti ini tidak layak untuk dimuliakan dan diagungkan di dalam Ibadah yang benar.

    Mengapa demikian? Karena Allah seperti ini tidak dapat menunjukkan kuasa, kemuliaan dan keagungan atas dunia ciptaan-Nya karena Dia yang terbatas, bisa berubah, bisa menyesal dan tidak kekal, Dia terbatas seperti layaknya manusia. Allah seperti ini tidak patut untuk disembah di dalam ibadah yang benar. Lagu-Lagu penyembahan kepada Allah di dalam Ibadah tidak boleh dikumandangkan. Mazmur-Mazmur Pujian yang menyatakan kebesaran dan keagungan Allah, seperti: Mazmur 2, 11, 46, 47, 48, 93, 96, 97, dst, tidak boleh dinyanyikan atau dibacakan di dalam setiap ibadah dan pemeberitaan Firman.

    Coba sekali lagi kita pikirkan: apakah ini sesuai dengan ajaran Alkitab tentang Allah?

    Kita harus percaya bahwa Allah memang sungguh sempurna, tidak berubah, kekal dan tidak ada rencana-Nya yang gagal, sehingga segala pujian, hormat dan kemuliaan kita kembalikan kepada Dia yang memang layak untuk mendapatkan-Nya di dalam konteks ibadah yang benar.


C.      Melemahkan [bahkan menghilangkan] Keyakinan akan Providensi dan Kedaulatan Allah saat menghadapi penderitaan dan pergumulan yang berat.

   • Kesimpulan dari pandangan Open Teisme, bahwa Allah tidak berkuasa penuh atas dunia ciptaan-Nya untuk mengatur segala kehidupan yang ada di alam semesta. Telah melemahkan atau bahkan menghilangkan keyakinan dan pengharapan orang Kristen terhadap providensi dan kedaulatan Allah.

   • Ketika orang Kristen hidup di dalam penderitaan yang berat (contoh: Peristiwa Mei 1998), orang Kristen yang memegang pandangan “Open Teisme” akan berkata, aku mampu menghadapi segala sesuatu beradasarkan pilihan dan kebebasan yang ada padaku. Pertanyaannya: Mampukah orang tersebut keluar dari segala persoalan yang berat dengan kekuatan sendiri?

   • Sebaliknya dengan percaya sepenuhnya kepada Providensi Allah, maka segala penderitaan yang berat sekalipun kita “dimampukan” untuk menghadapi itu semua. Contoh: Yusuf – Kejadian 45:5,7,8 dan Kejadian 50:20; Ayub 1:21. Ini pandangan yang Alkitabiah.


D.      Menghilangkan Keyakinan Orang Kristen terhadap Jawaban Doa

    Kesimpulan dari pandangan “Open Teisme” bahwa Jawaban doa bukan bergantung Kedaulatan Allah. Jawaban doa bergantung kepada permohonan dan permintaan orang Kristen yang dapat mempengaruhi keputusan Allah.

    Konsekuensi logisnya adalah: (1) Kebergantungan kepada Allah di dalam doa menjadi tidak penting; (2) Kecenderungan doa-doa yang dinaikkan oleh manusia bukan di dasarkan kepada apa yang menjadi kehendak Tuhan, tetapi kepada keinginan manusia itu yang telah dicemari dosa; (3) Jawaban doa-doa kita sesuai dengan keinginan kita, dengan kata lain Allah itu hanya menjadi semacam “petugas yang menyediakan” segala keperluan kita yang didasarkan kepada keinginan yang sudah dicemari dosa.

    Coba pikirkan: Siapa sebenarnya yang menjadi Allah? Apakah Tuhan di atas sana atau diri kita sendiri?


E.      Menghilangkan Otoritas Kitab Suci yang adalah Firman Allah atas hidup manusia

    Kesimpulan dari pandangan Open Teisme, yang menolak menggunakan prinsip hermeneutika yang baku sebagaimana dipakai oleh para teolog umumnya dan  menekan-kan tentang kebebasan di dalam membaca Kitab suci dengan pemikiran filosofi secara tidak langsung telah menolak “otoritas Firman Tuhan” atas hidup manusia.

   Cara pembacaan dan penafsiran Kitab suci yang menyimpang dari pemahaman dan tradisi gereja dengan prinsip penafsirannya yang baku akan menghasilkan “kesalahan penafsiran akan bermuara kepada kekeliruan di dalam memahami Firman Allah” - (sesat?). Hal ini dengan sendirinya akan menghilangkan otoritas Alkitab yang adalah Firman Allah sendiri atas hidup manusia.

   •  Sebagai contoh: Menyatakan bahwa Allah bisa menyesal dan akhirnya Allah bisa berubah (lihat. Keluaran 32:14; Bilangan 14:11, Yunus 3:10, dll) – Bertentangan dengan pengakuan gereja terhadap Allah sebagaimana dirumuskan di dalam kristalisasi pengakuan iman, misalnya: Pengakuan Iman Westminster Pasal 3.1-2; Katekismus Heidelberg, P & J.27,28; Pengakuan Iman Belgia, artikel 1;  Kanon Dordrecht Pasal 1, dll.

    Penafsiran tanpa memperhatikan “sifat dan keutuhan” Alkitab yang adalah Firman Allah, di mana Alkitab harus ditafsirkan dan dijelaskan melalui Alkitab itu sendiri akan semakin menegaskan “kesalahan penafsiran” dari konsep yang dimaksud. 

  • Coba pikirkan: apakah tradisi gereja akan secara sembarangan merumuskan suatu konsep tentang Allah yang kemudian diwariskan secara turun-temurun dengan tidak didasarkan kepada data Alkitab yang solid?



V. Kesimpulan:

1. Open Teisme tidak dapat dipertanggung jawabkan baik secara teologis dan moral.

2. Open Teisme seharusnya tidak mempengaruhi keyakinan iman yang benar dari setiap orang Kristen, yang sudah mewarisi iman yang benar di dalam tradisi reformasi.



Soli Deo Gloria.

 

Natal: Sebuah Kabar Buruk  Rabu, 28 Desember 2016
Nyanyian Kemenangan  Sabtu, 26 September 2015
Teladan Kesalehan Yusuf  Senin, 22 Desember 2014
Datang Menyembah Dia  Kamis, 27 Desember 2012
Pemikiran Calvin mengenai Kitab Suci  Jumat, 02 November 2012
Visi & Misi 
Ayat-Ayat 
    Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata;
    Mazmur 18:32
    Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;
    Mazmur 37:5
    Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;
    Amsal 3:7
    Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
    Yeremia 17:7
    Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!
    1 Korintus 16:13
    Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.
    Amsal 3:5-6
    "Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!"
    2 Tawarikh 15:7
    "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."
    Matius 19:26
    Persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
    Roma 12:1
    Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!
    Mazmur 31:24
    Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
    I Korintus 13:4
    Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.
    1 Korintus 3:7
    Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
    Roma 8:28
Galeri 

  
 
 
Home

Profil GKA Trinitas

Sejarah GKA Trinitas

Visi dan Misi

Jadwal Kegiatan

Artikel

Artikel Khusus

Renungan

Warta Gereja

Galeri GKA Trinitas

Hubungi Kami

Warna Sari

Jl. Kayun 22 Surabaya
Telp. 031.532 2693, 546 8684
Fax. 031.547 4175
E-mail: tu@gkatrinitas.org


Copyright 2011 GKA Trinitas Surabaya. All Rghts reserved