Artikel › Artikel Khusus  
Rabu, 28 Desember 2016
Natal: Sebuah Kabar Buruk
Ev. Stefanus Kristianto
Natal: Sebuah Kabar Buruk
Maleakhi 4:1-6

Ev. Stefanus Kristianto

       Tidak bisa dipungkiri, perayaan Natal hari ini bukanlah monopoli umat Kristiani semata, sebab nyatanya, perayaan ini telah menjadi perayaan besar tahunan di hampir seluruh dunia. Sewaktu saya sedang menyelesaikan studi di negeri Singa, saya mendapati bahwa banyak tempat di sana mulai menghias diri dengan berbagai ornamen Natal bahkan sejak awal bulan Nopember. Bila Anda berjalan di bilangan Orchard Road, misalnya, Anda tidak perlu menanti hingga awal bulan Desember untuk bisa menemukan beragam dekorasi Natal yang menawan. Menariknya, meskipun Kekristenan merupakan agama terbesar kedua di Singapura, tetapi jumlah penganutnya hanya sebesar delapan belas persen dari total penduduk di negeri itu. Itu artinya, ada sekitar delapan puluh dua persen penduduk yang non-Kristen, yang ikut “merayakan” Natal! Gejala yang sama juga bisa ditemukan di berbagai belahan bumi lain, baik itu di wilayah Eropa yang cenderung sekularis maupun wilayah-wilayah Arab yang mayoritas penduduknya Muslim.
       Meskipun merayakan Natal dengan sudut pandang yang berbeda, Gereja dan dunia nampaknya sepakat bahwa Natal identik dengan sukacita dan kegembiraan. Bagi dunia, Natal merupakan momen penuh sukacita oleh karena beragam dekorasi yang indah maupun promo dan potongan harga yang menggiurkan. Bagi Gereja, Natal (seharusnya) merupakan momen penuh kegembiraan karena mereka memeringati kelahiran Juruselamat mereka yang membawa damai bagi dunia (meskipun ironisnya, tak jarang jemaat lebih bersukacita karena perayaan Natal itu sendiri ketimbang apa yang Kristus telah lakukan). Di tengah beragam kegembiraan itu, ada satu aspek penting tentang Natal yang kerap diabaikan oleh dunia dan Gereja, yakni sisi ‘gelap’ Natal.
        Di dalam nas yang kita baca tadi, TUHAN menyatakan bahwa Ia akan mengadakan penghakiman dan pemisahan di antara manusia. Orang-orang yang fasik dan jahat akan dihukum dan dibinasakan, sementara orang-orang benar akan menerima pemulihan dari Tuhan. Menariknya, sebelum hari pemisahan itu tiba, Tuhan memberikan pertanda kapan akan dimulainya hari tersebut, yakni ketika Tuhan mengutus Nabi Elia datang kembali. Pertanyaannya siapakah Elia yang dimaksud di sini?
        Perjanjian Baru menunjukkan dengan jelas bahwa Elia yang dimaksud di sini ialah Yohanes Pembaptis. Di dalam Matius 11:10-14, Tuhan Yesus berkata:

Karena tentang dia (Yohanes Pembaptis) ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya. Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya. Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes dan jika kamu mau menerimanya ialah Elia yang akan datang itu.

Di dalam Matius 17:11-13, Tuhan Yesus kembali menyatakan hal yang sama, bahwa Yohanes Pembaptis merupakan Elia yang akan datang itu.

Jawab Yesus: “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.

Selain Tuhan Yesus, malaikat Gabriel juga menyatakan hal yang sama. Ketika ia memberitahukan berita kelahiran Yohanes kepada Zakharia, ayahnya, ia juga menyatakan bahwa Yohanes Pembaptis memiliki kaitan erat dengan sosok Elia: “ … ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya” (Lukas 1:17). Meskipun Yohanes Pembaptis sendiri nampaknya tidak menyadari peran ini (bnd. Yohanes 1:21), tetapi penulis Perjanjian Baru, dan khususnya Yesus, jelas mengidentifikasikan Elia yang akan datang itu dengan Yohanes Pembaptis.
      Bila memang kedatangan Elia itu digenapi melalui kehadiran Yohanes Pembaptis, lantas kapankah hari penghakiman itu dimulai? Kita memang tidak memiliki petunjuk decisive tentang kapan dimulainya penghakiman itu, namun kita memiliki petunjuk kuat tentang melalui siapa penghakiman itu dimulai. Di dalam Matius 3:12, Yohanes memberi keterangan tentang Mesias yang akan datang, “Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” Ini sejalan dengan keyakinan sebagian orang Yahudi bahwa Mesias nantinya akan menjadi wakil Allah dalam menghakimi semua orang. Misalnya di dalam 1 Henokh 69:27-29, dikatakan:

Dan Dia duduk di tahta kemuliaan-Nya; Dan puncak penghakiman diberikan kepada Anak Manusia; Dan Dia menyebabkan orang-orang berdosa berlalu dan dimusnahkan dari muka bumi; Dan mereka yang membawa dunia kepada penyesatan, mereka akan diikat dengan rantai; Dan di dalam tempat-tempat pemusnahan mereka akan dipenjara; Dan semua perbuatan mereka akan lenyap dari muka bumi; Dan mulai saat itu, tidak akan ada kejahatan; Karena Anak Manusia telah muncul; Dan telah mendudukkan diri-Nya di tahta kemuliaan-Nya; Dan segala kejahatan akan berlalu dari hadapan-Nya; Dan firman dari Anak Manusia itu akan terus ada; Dan menjadi kuat di hadapan Tuhan dari segala Roh (Terjemahan bebas; bnd. juga 2Barukh 72-72; 4Ezra 12:31-34; Mazmur Salomo 17:21-23).

       Dari konteksnya, jelas bahwa Mesias yang dibicarakan Yohanes di dalam Matius 3 ini ialah Yesus sendiri. Atau, dengan kata lain, Yohanes menegaskan bahwa Yesuslah yang akan menghakimi dan membawa pemisahan yang telah dinubuatkan Maleakhi sebelumnya.
       Bila demikian, kita bisa menyimpulkan bahwa kelahiran Yesus di dunia ternyata bukan sekadar membawa kabar baik, tetapi juga membawa kabar buruk. Ia memang membawa kabar pemulihan dan keselamatan dari Allah, tetapi di sisi lain kehadiran-Nya mengingatkan kita bahwa penghukuman Allah atas orang-orang jahat sudah dimulai! Penghakiman dan pemisahan itu memang akan mencapai puncaknya pada saat kedatangan Kristus kedua kali, tetapi prosesnya telah dimulai sejak kedatangan Yesus yang pertama. Ketika Yesus datang dan memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah datang, itu artinya pemisahan yang Allah akan lakukan sudah dimulai! Orang-orang yang fasik dan jahat akan dihukum-Nya cepat atau lambat, sementara orang-orang benar akan dipulihkan-Nya.
        Natal memang momen yang membawa sukacita, sebab Kristus mau merendahkan diri-Nya dan berkorban untuk keselamatan kita. Tetapi di sisi lain, kelahiran-Nya mengingatkan kita untuk sungguh-sungguh bertobat! Dia datang bukan hanya untuk menyelamatkan, tetapi juga menghakimi dan membawa pemisahan. Karena itu, hari ini Anda yang terus hidup menikmati dosa dan kejahatan Anda, perayaan Natal mengingatkan kita bahwa Allah tidak main-main dengan penghakiman-Nya. Tanpa pertobatan sungguh-sungguh Natal tidak akan pernah menjadi berita yang menyenangkan bagi kita. Sebaliknya, Natal hanya akan mengingatkan kita bahwa Allah akan menghakimi setiap kejahatan dan kefasikan kita cepat atau lambat. Karena itu, mari sungguh-sungguh bertobat di hadapan-Nya!

Nyanyian Kemenangan  Sabtu, 26 September 2015
Teladan Kesalehan Yusuf  Senin, 22 Desember 2014
Datang Menyembah Dia  Kamis, 27 Desember 2012
Pemikiran Calvin mengenai Kitab Suci  Jumat, 02 November 2012
Visi & Misi 
Ayat-Ayat 
    Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata;
    Mazmur 18:32
    Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;
    Mazmur 37:5
    Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;
    Amsal 3:7
    Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
    Yeremia 17:7
    Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!
    1 Korintus 16:13
    Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.
    Amsal 3:5-6
    "Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!"
    2 Tawarikh 15:7
    "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."
    Matius 19:26
    Persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
    Roma 12:1
    Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!
    Mazmur 31:24
    Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
    I Korintus 13:4
    Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.
    1 Korintus 3:7
    Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
    Roma 8:28
Galeri 

  
 
 
Home

Profil GKA Trinitas

Sejarah GKA Trinitas

Visi dan Misi

Jadwal Kegiatan

Artikel

Artikel Khusus

Renungan

Warta Gereja

Galeri GKA Trinitas

Hubungi Kami

Warna Sari

Jl. Kayun 22 Surabaya
Telp. 031.532 2693, 546 8684
Fax. 031.547 4175
E-mail: tu@gkatrinitas.org


Copyright 2011 GKA Trinitas Surabaya. All Rghts reserved